Hikmah

Berisi kumpulan tulisan yang mengandung hikmah


>> Apakah boleh menasehati orang tua? <<

(10 Maret 2019)

Terrmasuk kasih sayang kepada orang tua kita adalah mengingatkan pada mereka tentang kematian dan perkara akhirat. Sebagaimana kita mendidik anak kita untuk shalat, puasa, mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangannya tersebab takut kepada Allah dan hari akhir. Ketika kita tua tentu ingin ada yang mengingatkan diri ini, karena sesungguhnya keimanan itu naik-turun. Bahkan menasehati orang tua yang berbuat kemungkaran adalah bentuk bakti yang paling baik. Tentunya dengan memerhatikan adab dalam menasehati orang tua. Terkecuali kita ridho orang tua kita tidak selamat dari api neraka. Maka apapun yang diperbuat orang tua kita tidak lagi kita perhatikan termasuk misalnya meninggalkan shalat, mabuk, menyakiti orang lain dengan lisannya, dan lain sebagainya. Nasehat itu harus datang dengan cara yang lembut sehingga tidak menyakiti hati orang tua. Bukan juga didiamkan sama sekali karena kita takut durhaka. Justru hal tersebut merupakan bakti karena kita ingin orang tua kita selamat dari api neraka dan berkumpul kebali di surga.

Syaikh ‘Abdul ‘Azîz bin Bâz rahimahullâh menjawab kegamangan seorang anak atas tindakan maksiat yang ia lihat pada bapaknya. Beliau berkata: “Semoga Allâh Azza wa Jalla memberi hidayah dan kemauan bertaubat bagi bapakmu. Kami berpesan agar engkau tetap berlaku lembut kepadanya dan menasehatinya dengan cara halus, tidak pernah putus asa dalam rangka menunjukkannya kepada hidayah.

Bagaimana jika seorang anak yang setiap kali menasehati ibunya, ibunya selalu marah bahkan mendoakan kejelekan untuk anaknya. Apakah dibenarkan ia diam saja agar tetap mendapatkan kasih sayang ibunya?

“Engkau tetap menasehati ibumu terus-menerus, dan menjelaskan dosa dan bahaya akibat perbuatannya. Jika tidak berpengaruh baik, cobalah sampaikan kepada suaminya (bapakmu atau lelaki yang menjadi suaminya karena sudah cerai dari ayah, red), orang tua ibu atau walinya, agar mereka inilah yang menasehati beliau. (Jawaban Syaikh ‘Abdullâh bin ‘Abdur Rahmân al-Jibrîn hafizhahullâh)

Dari penjelasan diatas, dapat kita simpulkan bahwa menasehati orang tua dapat kita lakukan dengan hikmah dan kelemah-lembutan, juga tidak boleh menyerah sebagaimana rasa kasih sayang kita terhadap anak-anak yang mendorong kita berjuang bersama menuju surga, juga harusnya kita punya keinginan untuk membimbing orang tua dan berjuang bersama untuk berkumpul dalam surga.